Selasa, 05 Juli 2011

Askep hiperbilirubin


HYPERBILIRUBIN

A.  PENGERTIAN

Hyperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal. ( sumber : Asuhan Keperawatan pada Anak,Suriadi ;133).

Hyperbilirubin adalah ikterus dengan konsentrasi  bilirubin serum yang menjurus kearah terjadinya kernik ikterus/ ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan ( sumber : Kapita Selekta Kedokteran; jilid 2 hal: 503 ).

Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi  akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonates ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh ( Adi Smith, G, 1988).
Meningkatnya kadar bilirubin dapat disebabkan produksi yang berlebihan. Sebagian besar bilirubin berasala dari destruksi eritrosit yang menua. Pada neonates 75%bilirubin berasal dari mekanisme ini. Satu gram hemoglobin dapat menghasilkan 35 mg bilirubin indirect ( free bilirubin) dan inilah yang dapat masuk kejaringan otak dan menyebabkan kernikterus. Sumber lain kemungkinan besar dari sum-sum tulang dan hepar, yang terdiri dari 2 komponen, yaitu komponen non-eritrosit dan komponen eritrosit yang terbentuk dari eritropoiesis yang tidak sempurna.
Pembentukkan bilirubin diawali dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin . Setelah mengalami reduksi bilverdin menjadi bilirubin bebas, yaitu zat yang larut dalm lemak dan sulit larut dalam air.Bilirubin ini mempunyai sifat lipofilik yang sulit di ekskresi dan mudah melewati membrane biologic seperti plasenta dan sawar otak. Didalam plasma bilirubin bebas tersebut terikat/ bersenyawa dengan albumin dan kemudian dibawa kehepar. Dalam hepar terjadi mekanisme ambilan sehingga bilirubin terikat oleh reseptor membrane sel hepar dan masuk kedalam hepatosit. Didalam sel bilirubin akan terikat dan bersenyawa dengan  ligandin( protein Y ), protein Z dan glutation S-transferase membawa bilirubin ke reticulum endoplasma hati. Di dalm sel hepar  berkat adanya enzim glukorinil transferase, t erjadi proses  konjugasi bilirubin yang menghasilkan bilirubin direk, yaitu bilirubin yang larut dalam air dan pada kadar tertentu  dapat diekskresi melalui ginjal. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi di ekskresi melalui duktus hepatikus kedalam saluran pencernaan. Selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar bersama feses sebagai sterkobilin. Didalam usus terjadi proses absorpsi enterohepatik , yaitu sebagian kecil  bilirubin direk dihidrolisis menjadi bilirubin indirek dan direarbsorbsi  kembali oleh mukosa usus.
Penigkatan kadar bilirubin pada hari-hari pertama kehidupan dapat terjadi pada sebagian besar neonates. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar eritrosit neonatus  dan umur ertrosit yang lebih pendek 30-90 hari, dan fungsi hepar yang belum matang. Hal ini merupakan keadaan fisiologis. Pada liquor amnion yang normal dapat ditemukan bilitubin pada kehamilan 12 munggu, kemudian menghilang pada kehamilan 36-37 minggu. Pada inkompatibilitas darah Rh, kadar bilirubin amnion dapt dipakai untuk  memperkirakan beratnya hemolisis. Peningkatan bilirubin amnion juga terdapat pada obstruksi usus janin. Sebagaimana bilirubin sampai ke cairan amnion belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi, kemungkinan besar melalui mukosa saluran nafas dan saluran cerna . Produksi bilirubin pada janin dan neonatus diduga sama besarnya, tetapi kesanggupan hepar  mengambil bilirubin dari sirkulasi sangat terbatas . Demikian pula kesanggupan untuk mengonjugasi. Dengan demikian, hampir semua bilirubin pada janin dalam bentuk bilirubin indirek dan mudah melalui plasenta ke sirkulasi ibu dan dan diekskresi oleh heparnya ibu.


B.   ETIOLOGI
a.   Produksi bilirubin yang berlebihan, dapat terjadi karena polycetlietnia, isoimmun hemolytic  disease, kelainan struktur  dan enzim sel darah merah, keracunan obat ( hemolisis kimia salsilat, kortikosteroid, klorampenikol), hemolisis ekstra vaskuler, cephalhematoma acchymosis.
b.   Gangguan fungsi hepar disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan sel darah merah, misalnya immaturitas hepar pada bayi premature, infeksi hepar
c.   Gangguan transportasi, akibat panurunan kapasitas pengangkutan misalnya hypoalbuminea pada bayi prematur atau karena pengaruh obat-obat tertentu.
d.   Gangguan ekskresi bilirubin/ obstruksi.



C.   MANIFESTASI KLINIS
1.    Perut membuncit
2.   Pembesaran hati
3.   Gangguan neurologic, kejang, opistotonus, tidak mau minum, letargi,reflek morro lemah atau tidak sama sekali
4.   Feses bewarna dempul
5.   Tampak ikterus : sclera, kuku/ kulit dan membrane mukosa , terjadinya ikterus akibat pengendapan bilirubin indirect pada kulit yang cenderung  tampak kuning terang atau orange, ikterus pada type obstruksi 9 bilirubin direct) kulit tampak bewarna kuning kehijauan atau keruh
6.   Muntah nausea, warna urine gelap.
7.   Nafsu makan menurun.
8.   Badan terasa lemah.

D. PATOFISIOLOGI
-         Pigmen kuning ditemukan dalam empedu yang terbentuk dari pemecahan hemoglobin oleh kerja hemeoksigenase, biliverdin reduktase dan agen pereduksi non enzimatik dalam system retikulo endothelial.
-         Setelah  pemecahan hemoglobin, bilirubin tidak terkonjugasi, diambil oleh protein intraselular “Y protein” dalam hati.
Pengambilan tergantung pada aliran darah hepatic dan adanya ikatan protein.
-         Bilirubin yag tidak terkonjugasi dalam hati diubah atau terkonjugasi oleh enzim asam uridin difosfoglukuronat, uridin dipospoglukuronik acit (UPGA) menjadi bilirubin mono dan diglucuronida yang polar, larut dalam air (bereaksi direk).
-         Bilirubi yang terkonjugasi yang larut dalam air dapat di eliminasi melalui ginjal.
-         Warna kuning dalam kulit akibat dari akumulasi pigmen bilirubin yang larut lemak, tidak terkonjugasi, non polar (bereaksi idirek)
-         Pada bayi dengan hiperbilirunemia kemungkinan merupakan hasil dari defisiensi atau tidak aktifnya glukuronil transferase.
-         Bilirubin yang patologis tampak ada kenaikan bilirubin dalam 24 jam pertama kelahiran. Sedangkan untuk bayi yang ikterus fisiologis muncul antara 3-5 hari sesudah lahir.
Ciri-ciri ikterus fisiologis
1.    Timbul pada hari ke 2 dan ke 3
2.   Kadar bilirubin indirek kurang dari 10 mg % pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg % pada prematur
3.   Kecepatan peningkatan kadar bilirubin kurang dari 5 mg % per hari
4.   Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg %
5.   Ikterus menghilang pada hari ke 10
6.   Tidak terbukti adanya hubungan dengan keadaan patologis.

Ciri-ciri ikterus patologis
1.    Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama
2.   Kadar bilirubin lebih dari 10 mg % pada neonates aterm dan lebih dari 12,5 mg % pada prematur
3.    Peningkatan kadar bilirubin lebih dari 5 mg % per hari
4.   Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama
5.   Kadar bilirubin direk lebih dari 1 mg %
6.   Ikterus mempunyai hubungan dengan proses hemolitik dan proses patologi lainnya.
E. KOMPLIKASI
1.    Kerusakan ikterus
2.   Infeksi : septicemia, peritonitis, pneumonia
3.   Kernikterus: kerusakan neurologis, cerebral palsy, retardasi mental, hiperaktif, bicara lambat, tidak ada koordinasi otot dan tangisan yang melengking.

F. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
1.    Fototerapi
2.   Fenobarbital
3.   Antibiotik apabila ada infeksi
4.   Transfusi tukar.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Pemeriksaan bilirubin serum

2.   Pemeriksaan urine dan feses rutin
Tujuannya yaitu untuk mengetahui adanya kadar bilirubin dan urobilin dalam urine atau feses.
3.   Ultrasound
Untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
4.   Radio isotope scan
Untuk membantu membedakan hepatitis dari atresia biliary. 

F. TOKSISITAS BILIRUBIN
Bilirubin bersifat toksik pada semua jaringan, tetapi toksisitasnya pada susunan saraf pusat paling penting secara klinis .
Secara klinis, hiperbilirubinemia berat berhubungan dengan tanda dan gejala yang lama dan akut. Pada awal gejalanya terdiri atas letargi, hisapan lemah, tangisan melengking dan hipotermia, iritabilitas, hipertonia, pistotonus, dan kejang mungkin terjadi.  Kematian juga dihubungkan dengan toksisitas. Pada pasien yang selamat mungkin timbul gejala sisa neurologic yang di tandai dengan tipe atetoid dari palsi serebral, tuli dan retardasi mental.


ASUHAN KEPERAWATAN HIPERBILIRUBIN
A.Pengkajian
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
1.     Letargi,malas.
SIRKULASI
1.     Mungkin pucat,menandakan anemia.
2.    Bertempat tinggal diatas ketinggian 5000 ft.
ELIMINASI
1.     Bising usus hipoaktif.
2.    Pasase mekonium mungkin lambat.
3.    Feses mungkin lunak/coklat kehijauan selama pengeluaran bilirubin.
4.    Urine gelap paekat;hitam kecoklatan(sindrom bayi bronze)
MAKANAN/CAIRAN
1.     Riwayat pelambatan/makan oral buruk,lebih mungkin disusui daripada menyusu botol.
2.    Palpasi abdomen dapat menunjukan pembesaran limpa,hepar.
NEUROSENSORI
1.     Sefalohematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang parietal yang berhubungan dengan trauma kelahiran/kelahiranekstraksi vakum.
2.    Edema umum,hepatosplenomegali,atau hidrops fetalis mungkin ada dengan inkompatibilitas Rh berat.
3.    Kehilangan refleks Moro mungkin terlihat.
4.    Opistotonus dengan kekakuan lengkung punggung,fentonel menonjol,menangis lirih,aktivitas kejang (tahap krisis)
PERNAPASAN
1.     Riwayat asfiksia.
2.    Krekels,mukus bercak merah muda (edema pleural,hemoragi pulmonal)
KEAMANAN
1.     Riwayat positif infeksi/sepsis neunatus.
2.    Dapat mengalami ekimosis berlebihan,petekie,perdarahan intrakranial.
3.    Dapat ikterik pada awalnya pada wajah dan berlanjut pada bagian distal tubuh;kulit hitam kecoklatan (sindrom bayi bronze)sebagai efek samping fototerapi.

B.Diagnosa Keperawatan
1.     Cedera,resiko tinggi terhadap keterlibatan sistem saraf pusat.
2.    Cedera,resiko tinggi terhadap efek samping tindakan fototerapi.
3.    Cedera,resiko tinggi terhadap komplikasi dari transfusi tukar.
C.Intervensi
Intervensi Diagnosa Keperawatan 1:
1.     Perhatikan kelompok dan golongan darah ibu/bayi.
2.    Tinjau catatan intrapartum terhadap faktor resiko yang khusus.
3.    Perhatikan penggunaan ekstrator vakum untuk kelahiran.
4.    Tinjau ulang kondisi bayi pada kelahiran,perhatikan kebutuhan terhadap resusitasi/petunjuk adanya ekimosis atau petekie yang berlebihan,sters dingin,afiksia,atau asidosi.
5.    Perhatikan bayi tetap hangat dan kering;pantau kulit dan suhu inti dengan sering.
6.    Mulai pemberian makanan oral awal dalam 4 sampai 6 jam setelah kelahiran khususnya bila bayi diberikan ASI.
7.    Evaluasi tingkat nutrisi ibu dan prenatal.
8.    Observasi bayi dengan sinar alamiah;perhatikan sklera dan mukosa oral,kulit menguning segera setelah pemutihan dan bagian tubuh tertentu terlibat.
9.    Perhatikan usia bayi pada awitan ikterik;bedakan tipe ikterik.
10. Kaji bayi terhadap kemajuan tanda-tanda dan perubahan perilaku.
Intervensi Diagnosa Keperawatan 2:
1.     Perhatikan adanya/perkembangan bilier atau obstruksi usus.
2.    Ukur kuantitas fotoenergi bola lampu fluoresen (sinar putih atau biru) dengan menggunakan fotimeter.
3.    Dokumentasiakan tipe lampu fluoresen,jumlah jam total sejak bola lampu ditempatkan dan pengukuran jarak antara permukaan lampu dan bayi.
4.    Berikan tameng untuk menatap mata;inspeksi mata setiap 2 jam bila tameng dilepaskan untuk pemberiaan makan.Sering pantau posisi tameng.
5.    Tutup testis dan penis bayi pria.
6.    Pasang lapisan plexiglas diantara bayi dan sinar.
7.    Pantau kulit neonatus dan suhu inti setiap 2 jam atau lebih sering sampai stabil
8.    Ubah posisi bayi setiap 2 jam.
9.    Pantau masukan dan haluaran cairan:timbang berat badan bayi dua kali sehari.Perhatikan tanda-tanda dehidrasi.
10. Perhatikan warna dan frekuensi defekasi dan urine.
11.  Dengan hati-hati cuci area perineal setelah setiap defekasi.
12. Bawa bayi pada orangtua untuk pemberiaan makan.
13. Perhatikan perubahan perilaku atau tanda-tanda penyimpangann kondisi.
14. Evaluasi penampilan kulit dan urin,perhatikan warna hitam kecoklatan.
Intervensi Diagnosa Keperawatan 3:
1.     Perhatikan kondisi tali pusat bayi sebelum transfusi bila vena umbilikal digunakan.
2.    Pertahankan puasa selam 4 jam sebelum prosedur atau aspirat isi lambung.
3.    Jamin ketersediaan alat resusitatif.
4.    Pertahankan suhu tubuh sebelum,selama,dan setelah prosedur.
5.    Pastikan golongan darah serta faktor Rhbayi dan ibu.
6.    Jamin kesegaran darah.
7.    Pantau tekanan vena,nadi,warna dan frekuensi pernapasan/kemudahan sebelum,selam,dan setelah transfusi.Lakukan penghisapan bila perlu.
8.    Dengan hati-hati dokumentasikan kejadian selama transfusi,pencatatan jumlah darah yang diambil dan diinjeksikan.
9.    Pantau tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit.
10. Kaji bayi terhadap perdarahan berlebihan dari lokasi IV setelah transfusi.
D.Evaluasi
1.     Menunjukan kadar bilirubin indirek dibawah 12 mg/dl pada bayi cukup bulan pada usia 3 hari.
2.    Resolusi ikterik pada akhir minggu pertama kehidupan.
3.    Mempertahankan suhu tubuh dan ketidakseimbangan cairan dalam batas normal.
4.    Bebas dari cedera kulit/jaringan.
5.    Mendemonstrasikan pola interaksi yang diharapkan.
6.    Menunjukan penurunan kadar bilirubin serum.
7.    Menyelesaikan transfusi tukar tanpa komplikasi.

Konsep Pemberian Cairan dan Nutrisi Pada Bayi dan Anak


KONSEP PEMBERIAN CAIRAN DAN NUTRISI PADA BAYI DAN ANAK

A.     PENGERTIAN
Nutrisi ialah zat penyusun makanan yang diperlukan oleh tubuh untuk metabolism, yaitu air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.
Melaksanakan pemberian makan yang sebaik-baiknya kepada bayi dan anak, bertujuan sebagai berikut:
a)      Memberikan nutrisi yang cukup untuk kebutuhan, memelihara kesehatan dan memulihkannyabila sakit, melaksanakan berbagai aktivitas, pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta psikomotor.
b)      Mendidik kebiasaan yang baik tentang memakan, menyukai, dan menentukan makanan yang diperlukan.

B.       JENIS – JENIS CAIRAN DAN NUTRISI

1.      Cairan  sehari – hari
·         ASI
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) sangat penting, mengingat : Air Susu Ibu adalah satu-satunya makanan dan minuman terbaik untuk bayi dalam masa empat bulan pertama kehidupannya.
Bayi harus segera disusui setelah lahir. Pada dasarnya setiap ibu dapat menyusui anaknya dan hendak nya disusui secara tepat.
Kandungan ASI nyaris tak tertandingi. ASI mengandung zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang proses tumbuh kembang otak dan memperkuat daya tahan alami tubuhnya.
Kandungan ASI yang utama terdiri dari:

1. Laktosa

merupakan jenis karbohidrat utama dalam ASI yang berperan penting sebagai sumber energi . Selain itu laktosa juga akan diolah menjadi glukosa dan galaktosa yang berperan dalam perkembangan sistem syaraf. Zat gizi ini membantu penyerapan kalsium dan magnesium di masa pertumbuhan bayi.  
Laktosa berperan dalam membangun system syaraf dan juga asupan energy bagi bayi untuk beraktifitas. Laktosa akan dioleh oleh tubuh menjadi galaktosa dan glukosa sebagai bahan utama pertumbuhan syaraf.

2. Lemak
merupakan zat gizi terbesar kedua di ASI dan menjadi sumber energi  utama bayi serta berperan dalam pengaturan suhu tubuh bayi. Lemak di ASI mengandung komponen asam lemak esensial yaitu: asam linoleat dan asam alda linolenat  yang akan diolah oleh tubuh bayi menjadi AA dan DHA. AA dan DHA sangat penting untuk perkembangan otak bayi.  Lemak sangat penting dalam memberikan asupan energy kepada bayi, dan juga membantu bayi dalam mengatur suhu tubuhnya.
Ada dua macam lemak yang terkandung di dalam ASI yaitu lemak linoleat dan asam alda linoleat yang nantinya akan diproses oleh tubuh bayi menjadi AA dan DHA yang dominan membantu pertumbuhan otak bayi.


3. Oligosakarida
merupakan komponen bioaktif di ASI yang berfungsi sebagai prebiotik karena terbukti meningkatkan jumlah bakteri sehat yang secara alami hidup dalam sistem pencernaan bayi.


4. Protein
Komponen dasar dari protein adalah asam amino, berfungsi sebagai pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan, dan fenilalanin merupakan senyawa yang berperan dalam proses ingatan. Protein adalah zat utama dalam pembentukan struktur otak bayi sehingga dapat meningkatkan kecerdasan bayi.


Komposisi zat utama dalam ASI:
1. Laktosa- 7gr/100ml.
2. Lemak- 3,7-4,8gr/100ml.
3. Oligosakarida- 10-12 gr/ltr.
4. Protein- 0,8-1,0gr/100ml.

Cara meningkatkan kualitas dan kuantitas ASI:
a. Banyak minum dan mengkonsumsi cairan. Jangan lupa mengkonsumsi susu.
b. Memakai saputangan handuk yang diletakkan diantara bra dan payudara. Usahakan untuk selalu memakai baju berlengan.
c. minum kaldu ayam : 1/2 kg ayam + 1/4 kg jahe (dimemarkan), 4 batang lengkuas (dimemarkan), 1 buah jeruk nipis (ambil airnya), 1 liter air ,garam secukupnya. seluruhnya direbus sampai kira2 10 menit mendidih. diminum sebelum dan sesudah menyusui. hal ini dilakukan setiap harinya minimal selama pemberian asi ekslusif.
c. makan makanan yang bergizi. hindari terlambat makan.
d. mengkonsumsi sayur daun katuk dan kacang-kacangan.
e. istirahat cukup.jaga kestabilan emosi. usahakan selalu ceria, berpikiran positif dan menjaga semangat menyusui.

·      PASI dan MP-ASI
PASI ( Pengganti Air susu Ibu ) adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi per-tumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur antara empat dan enam bulan, contohnya susu.

Cara memberikan PASI
:
Berikan PASI sesuai petugas kesehatan. Gunakan takaran dalam pengeceran PASI sesuai dengan label yang ada dalam kaleng PASI. Air yang digunakan untuk mengencerkan PASI adalah air yang sudah dimasak mendidih. Peralatan yang digunakan untuk mengencerkan dan memberikan PASI sebaiknya dibilas dengan air panas mendidih. Disamping pemberi an PASI, berikan makanan pendamping ASI setelah bayi berumur empat bulan. Segera setelah ibu sembuh, upayakan me-nyusui kembali. Untuk pemberian PASI sementara ibu sakit, usahakan tidak menggunakan botol dan dot, tapi gunakan gelas dan sendok agar bayi tidak bingung.

Kerugian akibat pemberian PASI
:
- Bagi Ibu :Tidak ekonomis dan tidak praktis
- Bagi Bayi :
1. Bayi tidak memperoleh zat kekebalan yang ada pada ASI, dengan demikian dapat meningkatkan resiko infeksi.
2. Ancaman kekurangan gizi, apabila diberikan tidak sesuai dengan ketentuan petunjuk penggunaan PASI.
3. Ancaman kegemukan, apabila diberikan secara berlebihan.
4. Lebih mudah terserang diare dan alergi.
5. Pertumbuhan mulut, rahang dan gigi tidak baik.
6. Mengurangi hubungan kasih sayang ibu dan anak yang dapat menghambat perkembangan mental selanjutnya.
Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi yang diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya selain ASI setelah umur 6 bulan, pada umur 4 – 6 bulan (masa transisi). Bayi terus minum ASI dan mulai diperkenalkan dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) (Departemen Kesehatan).

Menurut Departemen Kesehatan RI (2003 : 3), MP-ASI adalah makanan bergizi yang diberikan untuk memenuhi kecukupan gizinya.

Menurut Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia ( 2000 : 5 ):
-
 Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi / anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
-
 MP-ASI diberikan mulai umur 6 bulan sampai 24 bulan.
-
 Semakin meningkat umur bayi/anak, kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak, sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi.
-
 MP-ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI ke makanan keluarga, pengenalan dan pemberian MP-ASI harus melakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi / anak.
-
 Pemberian MP-ASI yang cukup kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat pada periode ini.

2.      Cairan  yang ada pada RS (Rumah Sakit)
Jenis – jenis cairan:
ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:
  • Na 130 mEq
  • K 4 mEq
  • Cl 109 mEq
  • Ca 3 mEq
  • Asetat (garam) 28 mEq
Keunggulan:
  • Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati
  • Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus
  • Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran
  • Mempunyai efek vasodilator
  • Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral

KA-EN 1B
Indikasi:
  • Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)
  • < 24 jam pasca operasi
  • Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak
  • Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam

KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:
  • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
  • Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
  • Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A
  • Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B

KA-EN MG3
Indikasi :
  • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
  • Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
  • Mensuplai kalium 20 mEq/L
  • Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L

KA-EN 4A
Indikasi :
  • Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak
  • Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal
  • Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):
  • Na 30 mEq/L
  • K 0 mEq/L
  • Cl 20 mEq/L
  • Laktat 10 mEq/L
  • Glukosa 40 gr/L

KA-EN 4B
Indikasi:
  • Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
  • Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia
  • Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:
  • Na 30 mEq/L
  • K 8 mEq/L
  • Cl 28 mEq/L
  • Laktat 10 mEq/L
  • Glukosa 37,5 gr/L


Otsu-NS
Indikasi:
  • Untuk resusitasi
  • Kehilangan Na > Cl, misal diare
  • Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)

Otsu-RL
Indikasi:
  • Resusitasi
  • Suplai ion bikarbonat
  • Asidosis metabolik

MARTOS-10
Indikasi:
  • Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik
  • Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein
  • Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
  • Mengandung 400 kcal/L

AMIPAREN
Indikasi:
  • Stres metabolik berat
  • Luka bakar
  • Infeksi berat
  • Kwasiokor
  • Pasca operasi
  • Total Parenteral Nutrition
  • Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

AMINOVEL-600
Indikasi:
  • Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI
  • Penderita GI yang dipuasakan
  • Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)
  • Stres metabolik sedang
  • Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)
PAN-AMIN G
Indikasi:
  • Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan
  • Nitrisi dini pasca operasi
  • Tifoid

Pada anak dan bayi :
Air : Sesuai dengan berat badan
0-10 kg : 100 ml/kgBB
11-20 kg : 1000 ml/kgBB + 50 ml/kgBB diatas 10 kg
Lebih 20 kg : 1500 ml/kgBB + 20 ml/kgBB diatas 20 kg
Na+ : 2 mek/kgBB
K+ : 2 mek/kgBB

Keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran air
Air masuk : Air keluar
Minuman : 800-1700 ml Urine : 600-1600 ml
Makanan : 500-1000 ml Tinja : 20- 200 ml
Hasil oksidasi : 200- 300 ml “Insensible loss” : 850-1200 ml

C.     TAHAP-TAHAPPEMBERIAN NUTRISI SESUAI DENGAN USIA
1. Umur 0 – 4 Bulan
• Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari, siang maupun malam.
• Jarngan diberikan makanan atau minuman lain selain ASI.

2. Umur 4 – 6 Bulan
• Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari, siang maupun malam.
• Beri makanan pendamping ASI 2 kali sehari, tiap kali 2 sendok makan.
• Pemberian makanan pendamping ASI dilakukan setelah pemberian ASI.
• Makanan pendamping ASI adalah :
 Bubur tim lumat
Þ ditambah kuning telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.

3. Umur 6 – 12 Bulan
• Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak
• Berikan bubur nasi ditambah telur / ayam / ikan / tempe / tahu / daging sapi/ wortel / bayam / kacang hijau / santan / minyak.
• Makanan tersebut diberikan 3 kali sehari. Setiap kali makan diberikan sebagai berikut :
Umur 6 Bulan : 6 sendok makan
Umur 7 Bulan : 7 sendok makan
Umur 8 Bulan : 8 sendok makan
Umur 9 Bulan : 9 sendok makan
Umur 10 Bulan : 10 sendok makan
Umur 11 Bulan : 11 sendok makan
• Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti : bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan sebagainya.

4. Umur 12 – 24 Bulan
• Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai keinginan anak
• Berikan nasi lembik yang ditambah telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.
• Berikan makan tersebut 3 kali sehari
• Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti: bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan sebagainya.

5. Umur 2 Tahun atau Lebih
2.       Berikan makanan yang biasa dimakan oleh keluarga 3 kali sehari yang terdiri dari nasi, lauk,pauk,sayur dan buah.
3.       Berikan juga makanan yang bergizi sebagai selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti :
Þ Bubur kacang hijau
Þ Biskuit
Þ Nagasari
·         Cucilah tangan sebelum menyuapkan makanan anak.
·         Gunakan bahan makanan yang  baik dan aman, peralatan masak yang bersih dan cara memasak yang benar.

Anjuran Pemberian Makan untuk anak dengan Diare Persisten :
-     Jika masih mendapatkan ASI, berikan lebih sering dan lebih lama, siang dan malam.
-    Jika anak mendapat susu selain ASI :
Þ Gantikan dengan meningkatkan pemberian ASI atau
Þ Gantikan dengan setengah bagian susu dengan bubur nasi dan ditambah tempe, jangan diberi susu kental manis.
-     Untuk makanan lain, ikuti anjuran pemberian makanan yang sesuai dengan umur anak.

D.     MENENTUKAN JUMLAH CAIRAN DAN NUTRISI
Kebutuhan cairan relative besar pada anak-anak kecil, dalam hal ini dapat di kemukakan sebagai berikut:
a.       Bagi bayi berumur 3 hari setelah lahir antara 80-100 cc per kg BB
b.      Umur 10 hari antara 125-150 cc per kg BB
c.       Triwulan I sekitar 175 cc per kg BB
Setelah mencapai maksimum dengan bertambahnya umur kebutuhan mulailah menurun, untuk dewasa misalnya sekitar 40 cc kg BB. Kebutuhan air per 100 cc kal yang dibutuhkananak dan dewasa, di mana dewasa menetabolisme 100 kal perlu air relatif lebih banyak dari bayi, oleh karena itu bayi tidak dapat disamakan dengan dewasa sehubungan dengan metabolismenya. Jadi, kalori pada anak sebagian besar digunakan untuk metabolism.
Jumlah kalori yang dibutuhkan :
1.      Pada triwulan I telah terjadi pengurangan, yaitu 120 kal/ kg BB per hari
2.      Pada triwulan IV yaitu 100 kal/kg BB per hari
3.      Ketika umur 1-3 tahun, yaitu 1300 kal/kg BB
4.      Ketika umur 10-12 tahun, yaitu 2500 kal/kg BB
Pada umumnya makin besar umur maka relative kebutuhan kalori makin kurang per kilogram berat badan, juga kebutuhan akan cairan.
Cairan yang dibutuhkan oleh tubuh adalah air. Air sangat sedikit diabsorbsi dalam lambung, sedikit diabsorbsi di usus, sebagian lagi mulalui vuli-vuli lumphe, sebagian diabsorbsi. Eksresi 50% melalui ginjal, 3-10% melalui usus dan 40-50% melalui pernafasan.
      Skema :
Umur
BB
Air/24 jam
Air/kg BB /24 jam
3 hari
10 hari
3 bulan
6 bulan
9 bulan
1 tahun
2 tahun
4 tahun
6 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun
3 kg
3,2 kg
5,4 kg
7,3 kg
8,6 kg
9,5 kg
11,8 kg
16,8 kg
20,0 kg
28,7 kg
45,0 kg
54,0 kg
250-300 cc
400-500 cc
750-850 cc
950-1100 cc
1100-1250 cc
1150-1300 cc
1350-1500 cc
1600-1800 cc
1800-2000 cc
2000-2500 cc
2200-2700 cc
2200-2700 cc
80-100 cc
125-130 cc
140-160 cc
130-150 cc
125-145 cc
120-135 cc
115-125 cc
100-110 cc
90-100 cc
70-85 cc
50-60 cc
40-50 cc